Menjelajah Jepang ala Hitchhiking

Penulis Nadhira Asiyah Arrin  |  Pewawancara Peter Jaya Satyo



Hitchhiker, sebutan bagi traveller yang menggunakan metode menumpang kendaraan secara cuma-cuma untuk sampai ke kota tertentu. Banyak sekali keunikkan hitchhike yang mungkin tidak dapat ditemui jika kita menjelajah dengan transportasi umum atau kendaraan pribadi. Kali ini, Divisi Media dan Pers diberikan kesempatan untuk mewawancarai Fadheel untuk berbagi pengalaman dan tips-tips selama hitchhiking. Q: Kenapa bisa terpikirkan untuk traveling dengan cara hitchhiking?

F: ​Sejak tinggal di downtown, memang sudah sering menyediakan rumah untuk jadi host house bagi para traveller bertujuan Beppu, mulai dari Perancis, Israel, Belanda dan negara-negara Eropa timur. Banyak hal tentang traveling yang justru didapatkan ketika menjadi host untuk mereka. Salah satunya, jadi tersadar kalau belum terlalu banyak menjelajahi Jepang, padahal sudah lebih lama tinggal disini dibanding mereka.

Q: Apa senang dan susah selama hittchiking?

F: Senangnya, hitchhike jadi kesempatan untuk bertemu dengan orang-orang keren yang mengubah mindset untuk tidak 'destination oriented' ketika traveling, karena selama perjalanan kita juga dapat menemukan berbagai hal yang juga tidak kalah seru. Namun, harus sering-sering berlapang dada dengan segala kemungkinan terburuk, seperti susah mencari tumpangan kalau sudah menjelang malam. Jadi, harus cari tempat untuk bermalam supaya bisa lanjut lagi esok hari.

Q: Kemana saja destinasi yang pas dengan metode hitchhiking ini?

F: Hitchhiking juga cocok untuk kemanapun asalkan masih satu daratan dan buat orang yang traveling sendiri atau berdua dengan barang bawaan yang sedikit, serta berencana mengunjungi lebih dari satu kota.

Q: Sejauh ini sudah pernah traveling kemana saja? Termasuk non-hittchiking dan hitchhiking.

F: Pernah ke 11 negara Asia setelah tinggal di Jepang. Pernah hitchhike di Jepang  dengan rute Beppu-Kitakyushu-Shimonoseki-Hiroshima-Osaka-Kobe-Kyoto-Fukui-Nagoya-Tokyo-Saitama. Pernah juga Beppu-Tokyo dengan rekor tercepat 18 jam, 6 kali menumpang. Selain itu, pernah juga  hitchhike 'terdesak' di Pulau Jeju, Korea. Benar-benar di tempat antah berantah dengan pemandangan sekitar hanya sawah dan ilalang, tidak ada bus atau kendaraan umum lain selain mobil pribadi yang lewat tiap beberapa menit sekali. Kira-kira sudah pernah 7 kali hitchhiking, dengan rata-rata 5-10 kali menumpang sekali jalan. Pertama kali di Korea fall 2016, pernah juga selama sebulan ketika spring 2017 di Jepang, hingga bolak-balik Tokyo, Fukuoka dan beberapa tempat lain.

Q: Dengan hitcchiking kira-kira Fadheel bisa berhemat hingga berapa?

F: Relatif, sih. Soalnya memang tidak terlalu strict sama pengeluaran kalau sedang jalan-jalan. Contohnya, dengan rute 11 kota utama di Jepang selama sebulan tadi, cuma menghabiskan 20,000 yen, termasuk akomodasi, transportasi, dan lain-lain. Padahal sempat masuk ke tempat wisata yang berbayar, bermain ski di Fukui, nongkrong-nongkrong di kafe, hingga makan steak mahal. Kuncinya adalah transportasi dan tempat menginap gratis dengan cara hitchhike dan menggunakan couchsurfing. Terkadang, ada juga tipe host yang suka mengantarkan kemana-mana bahkan memaksa ingin membayarkan dan membelikan sesuatu.

Q: Sesuai pengalaman, kira-kira kapan saja waktu yang tepat untuk hitchhiking?

F: Kapanpun bisa selain bulan November sampai Maret karena sangat dingin. Pernah coba hitchhike di tengah salju deras, ujungnya enggak kuat dan justru langsung membeli tiket pesawat pada saat itu juga lewat HP. Sangat direkomendasikan ketika summer, karena selain cuaca yang panas konstan, hujannya juga tidak sesering saat spring atau fall yang menyebabkan keseringan berteduh.

Q: Pernah dengan siapa saja traveling by hitchhikinng ini?

F: Seringnya sendiri, tapi pernah juga sama temen atau dengan sesama hitchhiker.

Q: Siapa saja orang yang cocok untuk dijadikan sasaran empuk untuk tumpangan?

F: Di Jepang, orang yang paling berpeluang besar memberikan tumpangan adalah mobil dengan pengendara ibu-ibu yang bawa anak, pasangan suami istri, lansia, orang non-jepang, kumpulan anak muda yang lagi road trip, bapak-bapak dengan baju casual, mobil dengan banyak muatan barang, hingga truk. Selain itu, bisa jadi susah untuk mendapatkan tumpangan dari pengendara dengan baju formal, mobil box, dan mobil dengan plat nomor kota tempat hitchhike.



Q: Dimana tempat yang tepat untuk mencari sasaran menumpang selama traveling?

F: Paling gampang di rest area atau service area jalan tol, karena disana banyak mobil yang berlalu lalang antar kota. Jangan lupa bawa sign karena jempol saja tidak cukup. Sign nya berupa kertas dengan tulisan yang bisa terlihat dari jarak 20 meter. Tulisannya boleh apa aja, bisa kota tujuan, arah mata angin, atau apapun. Bisa juga dengan tulisan "次のサービスエリアまででもお願いします" yang artinya kurang lebih "Antarkan saya walaupun cuma hingga rest area selanjutnya".


Q: Sejauh ini, bagaimana pengalaman hitchhiking menurut Fadheel?

F: So far so good - karena sejauh ini belum punya pengalaman traumatik tentang hitchhike. Justru semakin menemukan pengalaman baru yang berharga karena dapat melatih kesabaran, mendewasakan diri, hingga melatih beragam kemampuan dari bahasa Jepang, ringan tangan untuk hal sekecil apapun, hingga social skill.

Q: Apa pengalaman paling menarik dan tidak terlupakan selama hitchhiking?

F: Setiap perjalanan hitchhike itu menarik. Suka bingung kalau diminta pilih salah satu cerita, karena tiap cerita punya kesan tersendiri. Salah satu yang paling diingat pas perjalanan dari Osaka ke Tokyo bulan November tahun lalu. Ada seorang kakek yang lagi menuju perjalanan pulang ke Tokyo memberikan tumpangan. Padahal pada saat itu sudah berencana untuk istirahat di service area Osaka. Waktu nyaris jam 8 dan kayaknya sudah tidak memungkinkan untuk melanjutkan perjalanan. Kakek itu datang pas lagi di kantin service area dan bicara dengan bahasa inggris nyaris tanpa aksen Jepang yang ternyata pensiunan wartawan yang pernah tinggal 20 tahun di Amerika.

Singkat cerita, akhirnya numpang dengan mobil beliau yang juga mengarah ke Tokyo. Selama 6 jam perjalanan (karena ada kecelakaan di tol), kami pun bicara tentang beragam topik. Mulai dari pembicaraan ringan seputar makanan, sampai obrolan tentang Donald Trump, bitcoin, climate change dan aging society. Kakek ini juga dengan murah hatinya membagikan makanan ringan di mobil beliau, bahkan dia juga bersedia mengantar hingga depan rumah tujuan.

Q: Apa rekomendasi bagi anak-anak yang juga ingin traveling murah meriah juga?

​F: Yang terpenting, ada rencana dan niat. Siapkan itinerary yang jelas ditambah dengan menanyakan destinasi kepada orang yang sudah pernah kesana. Bisa juga searching di internet untuk rekomendasi itinerary. Untuk akomodasi, website couchsurfing bisa jadi pilihan bagus, karena menyediakan rumah warga lokal secara cuma-cuma. Daripada membayar hotel lebih, gunakan uang untuk membelikan host kita makanan. Kita bisa ajak para turis dan host mengobrol hingga menyiapkan makanan malam karena sangat memungkinkan jika kita bukan satu-satunya turis ketika tinggal di rumah orang. Jadi, usahakan ikut bantu-bantu dan tidak hanya terkesan menumpang tidur saja. Dijamin, selain berhemat, traveling dengan cara ini juga lebih berkesan. Untuk makin hemat, bisa pakai JR pass, 18-kippu hingga bus pass. Buat yang lebih suka jalan rame-rame, bisa cari teman traveling yang mau diajak berpetualang, fleksibel dan bisa menerima segala kondisi menyusahkan selama perjalanan. Kalaupun enggak ada, jalan-jalan sendiri juga bisa jadi pilihan yang bagus.


6 views
  • White Facebook Icon
  • White Instagram Icon
  • line-logo-white-png-4

CONTACT US

@RitsumeikanAPUIna

@apu_ina

APUINA TV

@459vpzag

Ritsumeikan Asia Pacific University, Beppu, Oita, Japan

© 2020 by APUINA Media and Publication Team