Kehidupan Pasca Kelulusan di Tokyo

Penulis Siti Zulfa Azzahra  |  Pewawancara Peter Jaya Satyo  |  Foto ​Peter Jaya Satyo


​Halo, warga APUINA! Kali ini, kami mendapatkan kesempatan untuk berbincang-bincang dengan dua orang alumni APU yang bekerja di Tokyo, yaitu Muhammad Maftuh yang bekerja di HTM, sebuah payroll company, dan Matteo Giuberto yang bekerja di Sakura House. Mari kita simak!



P: Ceritain dong, bagaimana hari-hari pertama menjalani kehidupan di Tokyo!


MM: Pertama, kesepian, karena biasa hidup share terus sekarang harus tinggal sendiri. 1 bulan pertama gue sempat tinggal di mess yang disediain kantor dan dekat dari kantor, jadi belum ngerasain crowded-nya morning rush gitu. Tapi setelah pindah ke rumah sendiri, ya kayak Jakarta sih sebenarnya. Cuma bedanya kalau di Jakarta lo di dalam mobil, sekarang lo dalam kereta.


P: Kira-kira disaat kesepian, senpai-senpai yang ada disini bisa bantu nggak sih? Ngajak main bareng gitu misalnya?

MM: Itu sangat ngebantu, kayak misalnya lo bosen, tiap pagi berangkat kerja terus weekend nggak tahu mau ngapain. Tapi karena ada mereka, lo bisa cerita dan jadi ada temen buat ngobrol. Kaget sih dulu di APU misalnya kelas pertama period 3, sekarang tiap hari harus bangun di jam yang sama. Gitu sih sebenarnya.

P: Mengingat biaya hidup di Tokyo yang cukup mahal dibandingkan dengan Beppu, gimana sih caranya ngatur keuangan?

MM: Sebenarnya setelah lo bekerja dan dapat uang di Tokyo itu bakal nantoka naru. Lo bakal berusaha untuk memisahkan duit. Beberapa bulan pertama mungkin memang akan keteteran karena harus beli perabot ini-itu.  Cuma setelah 3 bulan lo akan terbiasa sama hidup di sini. Kalau bisa uang rumah automatic withdrawal. Jadi, begitu gaji lo masuk akan otomatis terpotong, dan kemudian bisa me-manage sisa uang yang ada. ​ MG: Setelah itu, mau nabung nggak nabung itu pilihan hidup ya. Gue kalau dapat duit, uang rumah dan listrik gue keluarin dulu, setelah itu sisanya ditabung. Jadi lo hidup bukan dengan sisa duit, tapi dengan tabungan, itu lebih safe.

P: Kisaran harga yachin disini kira-kira berapa ya? 

MM: Standar disini 70,000-90,000 yen untuk 1K. Tapi menurut gue jangan takut untuk keluar uang untuk rumah. Karena uangnya bakal balik walaupun lo keluar terus. Kenapa? Karena lo bakal banyak spend waktu lo di situ.


P: Terus kalau makanan gimana?

MM: Kalau gue sangat beruntung karena kantor gue menyediakan makan. Cuma ya tetap aja dipotong dari gaji. Cuma sebenarnya bikin bento itu paling ngirit, mungkin untuk seminggu atau beberapa minggu gitu. Kecuali kalau lo setiap hari makan di restoran. ​

P: Kalau makan-makan diluar sama bos sering nggak sih?

MM: Sering, sama senior-senior dan bos-bos. Biasanya hari kamis, 2 kali dalam sebulan. Biasanya mereka main darts, minum-minum, kalau gue cuma haha-hihi aja dengerin. Habis itu, biasanya lebih sering sama departemen juga. Misalnya dengan manajer departemen dan tim media departemen setiap akhir minggu. Di departemen gue kebanyakan orang Kanada dan Inggris dan mereka sangat suka dengan spice. Gue sering bawa mereka ke restoran Indo atau ke restoran Thailand. Mereka seneng sih.

P: Dengar-dengar disini ada budaya minum-minum sama bos dan kalau nolak kesannya nggak sopan, jadi mau nggak mau harus ikut. Kira-kira benar nggak sih?

MM: Perusahaan gue perusahaan Amerika dan mereka sangat menghormati privasi and work. Kalau gue izin, mereka nggak nanya-nanya. Nggak kayak di perusahaan Jepang yang kalo mau izin harus jelasin alasan-alasan ini-itu.


P: Sejauh ini, apa tantangan terbesar yang dialami? As in living dan transisi dari gakusei ke shakaijin.

MM: Challenge terbesar gue sebenarnya rutinitas sebagai gakusei dan orang kerja yang jauh berbeda. Kalau lo bangun, gakusei tuh paling lo lupa ngerjain PR ya yaudah lah. Cuma kalo lo shakaijin, walaupun kerjaan selesai hari ini, ya nanti bakal dateng lagi. Yang susahnya itu, rasanya “Kapan kelarnya nih?” gitu. Tapi pada satu titik lo akan nyadar, ya namanya juga kerja. ​ MG: Kalau gue, pernah telat datang ke kantor. Terus bos gue bilang, “Ini bukan sekolah lagi.” Kalo di sekolah lo bisa minta maaf, tapi kalo di sini lo dibayar, jadi ada responsibility.

P: Pernah ada masalah sama superior nggak selama bekerja?


MM: Sejauh ini, nggak. Karena pertama kita fresh graduate. Fresh-grad itu harus adaptasi, be a sponge. Kenapa gue bilang gitu, karena namanya aja fresh graduate, masih fresh, lo harus bisa menyerap banyak.

MG: Kalau lo kerja di Jepang, ada 2 hal yang lo wajib punya. Pertama, lo mesti humble. Kalo bos gue kesel banget kalo gue keras kepala, nggak mau dengerin. Lo mesti humble dan dengerin. Meskipun kadang-kadang pemikirannya rada kuno tapi dengerin aja gitu. Kedua, mental mesti kuat. Orang Jepang tuh cukup keras ya, terutama dalam dunia kerja. 

MM: As for me, luckily, gue lebih berinteraksi sama orang luar. Dimana mereka nggak suka sesuatu hal yang monoton. “Kan ini mendokusai, kenapa nggak cari cara baru,” gitu.

MG: Bos gue tinggal di US, cukup internasional, itu aja masih gitu, apalagi yang Jepang banget.

P: Pernah nggak bener-bener ngerasa pengen nyerah?


MM: Nggak sih, jujur gue enjoy banget. Nggak, dan kalo bisa jangan.

MG: Gue juga nggak sih, jujur. Gue juga enjoy banget. Gue suka banget kerjaan gue. Soalnya gue nggak mau selamanya di sini, gue mau belajar. Kalo lo pengen belajar, tapi lo nyerah ya you get nothing.

MM: Kerjaan gue sekarang sebenarnya kayak belajar gitu jadi gue enjoy. Kembali lagi ke seikaku orang, ada orang yang masokis, seneng kerja, ada yang sadistik, dia nggak mau kesiksa.

P: Buat yang baru masuk kerja, apa kejanggalan terbesar dari hidup gakusei ke shakaijin?

MG: Apa-apa tuh lo udah nggak di-provide orangtua. Lo liat duit jadi beda. Kayak lo pengen build karir lo, pengen saving. Jujur gue tiap hari bawa bekel. Pokoknya lo mesti hemat.

MM: Nggak bisa sembarangan keluar duit lagi. Itu yang kerasa banget.

P: Kalau dikasih kesempatan buat transfer ke Indonesia sekarang, dengan gaji yang sama, mau balik nggak?

MG: Jujur, gue bakal tolak. Sayang banget kalo pengen belajar 3 bulan udah balik, lo dapetnya kurang banyak sih menurut gue. Gue emang rencana nggak mau selamanya di sini, tapi kalo 3 bulan balik ya sayang sih. Gue ada rencana balik, karena ujung-ujungnya kita penerus bangsa, mesti bangun bangsa.

MM: Gue orangnya jujur, gue ngeliat kesempatan ekonomi, bukan nationality atau apapun lah. Kalau Indo tiba-tiba di detik ini jadi negara yang ekonominya paling kuat sedunia dan ada kerjaan sama, malah mungkin gaji naik, yaudah gue bayar rumah gue sekarang, kontrak gue batalin, gue balik. Cuma as for now, dengan keadaan seperti ini, mungkin gue dibilang nggak patriotis. Cuma satu, nggak ada alasan gue untuk pulang. Terus toh, kerja dan hidup nggak harus di Indo. Gue nggak selamanya pengen di Jepang. Mungkin kalo Allah berkata lain, pengen gue tinggal di Jepang yaudah. Cuma as for now, vision gue ke depan gue mau kerja di banyak negara.


P: Apa tips-tips buat kohai-kohai yang ingin kerja di Tokyo?

MM: Jangan pernah dibawa stres. Cari temen buat ngomong. Nggak penting itu orang Indo atau Jepang. Do not be forever alone. Itu secara logis pasti ya, cuma setelah lo kerja, stres, itu nggak.

MG: Menurut gue, cari sesuatu yang lo suka. Kayak gue, jujur gue suka apa yang gue lakuin. Kalo lo nggak suka dengan kerjaan lo, Senin sampai Jumat, pagi sampai jam 7 malem, itu bakal capek dan stres, dan menurut gue dari proses shuukatsu aja lo bakal belajar sesuatu. ​ MM: Shuukatsu tuh lo milih perusahaan yang lo cocok. Karena kalo lo nggak cocok, jadi males-malesan jalaninnya. Tapi emang kalo boleh jujur, beratnya, gue kalo Jumat seneng, hari terakhir kerja. Terus kalo Minggu ngerasa, wah kerja lagi besok. Itu kerasa. Kayak gitu tuh automatically bakal ada gitu lho. Jadi jangan dijadiin real life crisis.


P: Kalo lagi ada spare time biasanya kalian ngapain sih?


MM: Nge-gym sih.

MG: Gue udah nggak nge-gym, gue berenang terus.

MM: Bener sih, cari sesuatu buat menghabiskan waktu, dan ini mungkin terkesan seperti orang tua, spend something for your health. Terus, ada lagi, tambah value lo sebagai human. Contoh, belajar bahasa lain, belajar komputer, as in kayak software development.

P: Oke, gitu aja kayaknya. Makasih ya buat waktunya!

3 views
  • White Facebook Icon
  • White Instagram Icon
  • line-logo-white-png-4

CONTACT US

@RitsumeikanAPUIna

@apu_ina

APUINA TV

@459vpzag

Ritsumeikan Asia Pacific University, Beppu, Oita, Japan

© 2020 by APUINA Media and Publication Team